Aspek-aspek Kemacetan

Ngomongin macet tak ubahnya seperti ngomong gosip sambil makan pisang goreng di bawah pohon. Ga ada habisnya, ga ada penyelesaian. Yang ada cuma pengen nyalahin pemerintah-pemerintah doang. Mulailah berfikir sejenak dengan masalah ini, masalah yang sangat komplek yang ga ada habisnya lo dibahas. Kamu mau nyalahin orang yang banyak beli kendaraan pribadi, ga bisa. Mau nyalahin angkutan umum kurang bagus pelayanan, ga bisa man. Kamu harus berfikir secara komplek dari segala aspek. Disini saya mau berbagi ilmu mengenai aspek kendala yang dialami Indonesia kenapa terus terjadi kemacetan.

 Aspek Perencanaan

  • Kurangnya keterpaduan perencanaan (perencanaan pengembangan jaringan jalan, terminal angkutan jalan & keterpaduan perencanaan angkutan umum), sehingga seakan-akan perencanaan dulunya tiak ada yang namanya terpadu baik jaringan jalan, kemudian terminal sebagai simpul dan kegiatannya serta keterpaduan antar moda secara keseluruhan.
  • Kurangnya sinkronisasi dan harmonisasi antara implementasi dan perencanaan baik pada sistem angkutan umum maupun tata ruang/kawasan. Jadi perencanaan kakek n nenek moyang kita dulu dengan implementasi dikenyataannya tidak ada keterpaduan, tidak sesuai, amburadul, sakarepe dewe, sehingga perlu kajian ulang mengenai masalah ini.
  • Pembangunan dan pengembangan tata ruang kawasan belum diantisipasi dengan pembangunan infrastruktur yang memadai. Jadi maksudnya pembangunannya OK tapi saat dikaji masalah pengembangan jangka waktu ke depan tidak ada antisipasi yang jelas.
  • Pendekatan perencanaan yang dapat mengakomodasi ciri khas wilayah jarang dilakukan, sehingga karakteristik dari daerah tersebut tidak dipikirkan. Yang dipikirkan hanyalah “bagusnya seperti ini”, namun daerah tersebut tidak bisa dilakukan seperti itu.

Aspek Operasional

  • Kesulitan investasi (secara anggapan bisnis kurang menarik)
  • Kendaraan angkutan umum didominasi bus kecil, so kapan bisa terangkut semua lo cuma bus kecil bahkan elf.
  • Inefisiensi trayek angkutan umum (penetapan trayek tidak berbasis akan permintaan namum lebih kepada inisiatif operator)
  • Tumpang tindih trayek yang disebabkan tidak ada perencanaan matang atau ada tanda “…” oleh oknum yang tidak bertanggung jawab
  • Penerapan sistem WAP (Wajib Angkut Penumpang) mengakibatkan waktu tempuh relatif tinggi yang hanya menunggu kumpulnya penumpang, bukan pelayanan.

Aspek Kelembagaan & Pengaturan

  • Pemahaman terhadap penyelenggaraan angkutan umum (regulator, operator, user) belum bersifat operasional & nyata
  • Orientasi penyelenggaraan masih berorientasi PAD atau mengisi kantong daerah
  • Beberapa instansi yang terkait langsung dengan penyelenggaraan angkutan umum belum mengoptimalkan fungsi koordinatif
  • Petunjuk teknis sebagai penjabaran peraturan yang lebih tinggi belum mengakomodasi ciri wilayah dalam penyelenggaraan angkutan umum
  • Pembinaan dan pengawasan ke pihak swasta sebagai penyelenggara angkutan umum belum efektif
  • Mekanisme penentuan trayek dan jenis moda belum berjalan secara optimal
  • Karakteristik operator dan masyarakat yang berbeda, sehingga peraturan per UU an sulit diterapkan dengan benar

standar pelayanan

  • Belum tersusunnya standar dasar secara rinci baik untuk angkutan maupun pelayanannya
  • Kurang optimalnya sistem pengujian kendaraan

sistem kepemilikan

  • Manajemen dan koordinasi yang kurang baik
  • Sistem kepemilikan secara individu hanya akan melayani kepentingan pribadi
  • Sulit untuk menerapkan konsep standar pelayanan minimum

pendanaan/subsidi

  • Dana subsidi selalu diambil dari sektor lain
  • Kurang tepatnya sasaran pemberian subsidi

Kinerja angkutan umum

  • Rasio angkut (load factor) >120% disaat jam sibuk atau mungkin <70% untuk jenis bus besar dan sedang
  • Kecepatan rata-rata relatif rendah yaitu kurang dari 20 km/jam

 Sehingga dapat disimpulkan permasalahan trasnsportasi di Indonesia seperi halnya lingkaran setan yang tak ada hentinya masalah. Maka dalam hal ini perlu peran pemerintah sebagai pembinaan, untuk memutus rantai tersebut baik dengan subsidi maupun prioritas. Hal tersebut dapat digambarkan di bawah ini

One response

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s